Bulan Safar menyimpan serangkaian peristiwa yang menjadi tonggak penting bagi perkembangan awal Islam. Pada awal Safar, sebelum turunnya wahyu, Nabi Muhammad melangsungkan pernikahan dengan Khadijah, peristiwa yang tidak hanya menandai ikatan keluarga tetapi juga memberikan dukungan ekonomi dan moral yang sangat diperlukan bagi perjuangan dakwah beliau. Tidak lama kemudian, di Safar tahun 2 Hijriah, putri beliau, Fatimah, menikah dengan Ali bin Abi Thalib, sebuah pernikahan yang memperkuat ikatan Ahl Bait dan menegaskan garis keturunan keluarga Nabi. Pada akhir Safar tahun 1 Hijriah, hijrah Nabi Muhammad ke Madinah melalui Gua Al‑Hajar menandai dimulainya era pemerintahan Islam, membuka peluang terbentuknya masyarakat Islam pertama yang berlandaskan prinsip persaudaraan dan keadilan. Safar tahun 2 Hijriah juga menyaksikan Perang Al‑Abwa, ujian pertama umat Islam menghadapi agresi Quraisy, yang menguji ketabahan para sahabat. Lima tahun kemudian, pada Safar tahun 7 Hijriah, terjadinya Perang Khaibar membawa kemenangan strategis atas suku Yahudi Khaibar, memperluas wilayah Islam dan meningkatkan kekuatan politik komunitas Muslim. Pada Safar tahun 8 Hijriah, Ekspedisi Qutbah bin Amir bin Hadidah menegaskan keberanian umat Islam dalam ekspansi militer pasca‑Khaibar, memperlihatkan semangat penaklukan yang tetap terjaga. Selanjutnya, pada Safar tahun 9 Hijriah, Perang Dzu‘Amr memperkuat kontrol Islam atas wilayah Yaman, menambah wilayah kekuasaan dan mengokohkan kehadiran umat Islam di jazirah Arab. Akhirnya, di Safar tahun 11 Hijriah, Misi Usamah bin Zaid ke Romawi menjadi langkah diplomatik pertama Islam dalam menjalin hubungan dengan Kekaisaran Bizantium, menandai dimulainya era diplomasi internasional bagi umat Islam.
